1:00 pm - Sunday May 26, 2013

Transplantasi Karang di Desa Maitara, Tidore Berlangsung Sukses

Cahyadi Rasyid (Kla 95) sedang mengecek pertumbuhan karang transplantasi (Foto: Tim DKP Kota Tidore)

Alumni Ilmu Kelautan UNHAS terus aktif terlibat pada ragam kegiatan konservasi dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau di berbagai provinsi Indonesia. Salah satunya Maluku Utara. Di sini, beberapa alumni sukses menjadi pamong pemerintahan (PNS). Di Maluku Utara, negeri rempah-rempah yang terkenal itu terdapat Cahyadi Rasyid, ST, M.Si (Kla 95), Hasyim, ST (92) staf DKP Provinsi Maluku Utara serta Abdul Khalish Samiun, S.Kel, M.Si (94), staf DKP Kota Tidore Kepulauan.

Mereka inilah yang menjadi tulang punggung perencana sekaligus fasilitator kegiatan pelatihan pemberdayaan masyarakat. Judul kegiatannya, “Pengenalan Transplantasi Karang kepada Masyarakat di Provinsi Maluku Utara”. Para alumni ini terlibat dalam persiapan, pemaparan materi, hingga monitoring kegiatan di laut. Mereka didampingi alumni Kelautan Unhas yang juga kandidat Doktor, Syafyuddin Yusuf, ST, M.Si (Kla ‘89). Berikut ini adalah laporan kegiatan yang dikirim oleh Cahyadi Rasyid, ST, M.Si :

Mengapa Transplantasi Karang?

Sudah sering terdengar bahwa beberapa rataan terumbu karang di Indonesia telah hancur karena berbagai eksploitasi perikanan yang masif, utamanya di sekitar pemukiman warga. Di Maluku Utara pun demikian. Oleh karena itu Bidang KP3K DKP Provinsi Maluku Utara melakukan sosialisasi dan pengenalan upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Pelaksanaannya dijabarkan melalui pelatihan dalam kelas serta program aksi transplantasi karang di Desa Maitara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.

Secara spesifik, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengajarkan masyarakat cara merehabilitasi terumbu karang yang rusak, maupun untuk tujuan ekonomis perdagangan karang hias. Transplantasi karang dalam istilah lain berarti budidaya karang yang mengaplikasikan metode perbanyakan karang melalui stek lalu ditempatkan pada substrat buatan yang ditempatkan di atas meja-meja transplant.

Upaya transplantasi karang untuk perbaikan lingkungan memerlukan sumberdaya manusia yang terampil dan responsif pada kondisi lingkungan di sekitarnya, utamanya terumbu karang.

Gambaran Umum Lokasi

Suasana penempatan karang transplant (Foto: DKP Kota Tidore)

Jumlah RW di Desa Maitara sebanyak 4 buah dan RT sebanyak 8 buah. Jarak Desa Maitara dengan ibukota kecamatan sejauh 1,5 km. Daat dicapai melalui jalur laut menggunakan perahu motor dengan lama perjalanan sekitar 25 menit. Sedangkan jarak ke ibukota Kabupaten Kota Tidore sejauh 26 km dengan menggunakan perahu motor selama 1 jam perjalanan. Sedangkan ke Kota Ternate jarak tempus sejauh 2 km dengan lama perjalanan dengan perahu motor 20 menit.

Sangat disayangkan bahwa hingga saat ini, kondisi karang di Desa Maitara telah rusak hingga 21,40% – 41,80% karena adanya kegiatan destructive fishing dan pengambilan karang. Kegiatan pemboman ikan utamanya terjadi pada saat pasca kerusuhan sosial (1999-2000). Masih terdapat sisa-sisa bom molotov yang digunakan untuk menangkap ikan.

Maluku Utara memiliki 19 genus karang, yang sangat potensial dikembangkan untuk wisata bahari. Transplantasi merupakan metode perbanyakan karang-karang hias ekspor yang kini sedang diperdagangkan di Indonesia. Dengan upaya ini nelayan dengan mudah menyediakan stok karang yang dibutuhkan dalam dunia perdagangan seperti yang sudah dilakukan oleh nelayan Desa Less Bali, Kepulauan Seribu Jakarta dan Pulau Badi Pangkep Sulawesi Selatan.

Jalannya Kegiatan

Pelatihan dan Aksi Transplantasi Karang dilaksanakan di Desa Maitara Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore kepulauan Provinsi Maluku Utara pada tanggal 20 – 21 Oktober 2009. Proses Belajar mengajar dilakukan di aula Desa Maitara. Pelaksanaan praktek atau aplikasi transplatasi di Pantai Wisata Desa Maitara.

Suasana pelatihan di kelas (Foto: Tim DKP Kota Tidore)

Kegiatan pelatihan ini dibagi dalam empat tahap yakni : 1) Konsultasi dan koordinasi pelaksanaan kegiatan, 2) Persiapan peralatan dan bahan, 3) Proses belajar mengajar, 4) Penentuan lokasi transplantasi dan, 5) Sesi praktek transplantasi di lapangan. Butuh sebulan untuk merampungkan proses pelatihan ini.

Proses pemantauan dan pemeliharaannya juga dilakukan oleh masyarakat didampingi oleh tim dari DKP Provinsi Maluku Utara. Untuk melindungi terumbu dari kegiatan yang merusak hasil transplantasi karang misalnya adanya perahu/kapal yang berlabuh disekitar lokasi penempatannya dipasang rambu sebagai penanda.

Karang yang berhasil ditransplant sebanyak 10 buah meja. Tiap meja terdiri dari 50-60 karang transplant. Ukuran meja 115 cm x 90 cm x 30 cm. Pengumpulan induk dilakukan dengan cara menyelam di daerah terumbu karang sekitar pantai wisata. Karang diambil menggunakan palu dan betel dengan menyisakan sebagian yang dibiarkan berkembang lagi secara alami. Karang induk diangkut menggunakan keranjang hingga ke lokasi fragmentasi atau di atas daratan.

Adapun jenis-jenis dijadikan induk karang transplantasi adalah : Acropora florida, Acropora sarmentosa, Acropora nasuta, Montipora danae, Montipora sp, Stylopora pistillata, Millepora, Porites cylindrica.

Induk karang dari alam difragmentasi jadi potongan koloni yang kecil berukuran 5-7 cm. Pemotongan menggunakan tang kakatua pemotong atau betel dan palu. Potongan ini lalu dilekatkan pada substrat dan menggunakan lem sebagi penguat. Dalam satu meja dilekatkan karang yang sejenis dalam rangka memudahkan proses monitoring.

Setelah pelekatan di pantai atau di atas daratan, karang-karang tersebut diaklimatisasi ke laut pada kedalaman sekitar 1 meter untuk beberapa lama sebelum di tempatkan pada lokasi permanen. Kemudian ditempatkan di lokasi permanen menggunakan alat transport perahu. Lokasi permanen yang ditunjuk oleh masyarakat merupakan representatif dan relatif terlindung dari ombak, namun arus masih memungkinkan untuk kehidupan biota karang. Lokasi tersebut berada di sela-sela atau samping terumbu karang yang masih baik dengan pertimbangan perlindungan. Pada saat surut, air setinggi 60 cm, sedangkan saat pasang, air setinggi 1,5 – 2 m.

Sebelum dilakukan acara pelatihan dan program aksi terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan PRA guna mengetahui potensi, pandangan/persepsi masyarakat tentang terumbu karang dan pengelolaanya. PRA diharapkan mampu menggambarkan potensi dan karakteristik desa dan permasalahan masyarakat berdasarkan perspektif masyarakat itu sendiri.

Harapan

Beberapa pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara, DKP Kota Tidore. Selain itu juga dilibatkan pastisipasi aparat desa lain seperti Kepala Desa, BMD, tokoh adat/agama. Kegiatan ini diharapkan akan terus dilanjutkan dan diperluas dampaknya, selain untuk menggugah kesadaran warga untuk peduli lingkungan juga untuk meningkatkan pendapatan warga.

Pelatihan dan praktek transplantasi karang telah berjalan dengan sukses. Diharapkan dengan adanya kegiatan transplantasi ini akan menjadi sumber mata pencaharian alternatif masyarakat pesisir dengan adanya program perdagangan karang hias hasil transplantasi yang memang sangat diminati oleh pembeli dari Jepang.

Filed in: Riset-Pelatihan

9 Responses to “Transplantasi Karang di Desa Maitara, Tidore Berlangsung Sukses”

  1. cahyadi rasyid
    June 17, 2011 at 3:51 pm #

    Aiii, sahmo jd alumni, adami berita di web isla, hahahaha

  2. khirlan
    June 17, 2011 at 7:07 pm #

    mantap cambang…!
    hehehe

  3. jusain setiadi
    June 17, 2011 at 8:46 pm #

    sip sip sip….insya allah bulan depan maen kesana…..

  4. June 18, 2011 at 10:09 pm #

    mantap…terus berkarya dan sukses slalu

  5. boen
    June 20, 2011 at 6:59 pm #

    Laut adalah masa depan Indonesia, insha Allah. Semakin besar perhatian dan semakin banyak yang memperhatikan akan membuka peluang yang semakin besar juga, sukses dengan segala ikhtiar yang baik, semoga terus berlanjut

  6. Imran Lapong
    June 21, 2011 at 7:44 am #

    Mantap buddy..diver sejati peduli terumbu karang. Btw keliatannya cuma semeter ya?hehehe

  7. sukarmin idrus
    July 9, 2011 at 9:44 am #

    mantap….sukses selalu transplantainya….Laut masa depan kita…(nak Gelombang Samudera,
    perikanan UNKHAIR)

  8. Muchsin
    August 11, 2011 at 12:53 pm #

    menurut sy, tolong untuk transplantasi janganla dijadikan sebagai objek untuk suatu proyek karena banyak contoh yang sdh lalu. Misalnya pemecahan record untuk penanaman koral pd tahun 2010 oleh bpk Gubernur SulSel yang sy anggap gagal karena itu untuk sesaat saja dan transplatasi yang telah dilakukan di pulau Samalona semuanya merupakan kegiatan yang mubassir yang telah menhabiskan banyak dana. Maaf untuk kegiatan transplantasi perlu dikaji dan dipersiapkan lbh baik sebelum dilaksanakan

  9. syafyudin (Ipul) Yusuf
    March 9, 2012 at 10:37 pm #

    Transplantasi hanyalah salah satu metode restorasi terumbu karang yang rusak. manfaat lain memberi aware to community and government tuk perhatian ke lingkungan terumbu yang diawali dengan metode pemahaman yang jitu. namun saya juga menepis transplantasi bukanlah sebuah jawaban untuk merhabilitasi semua terumbu karang yang rusak.. memang banyak tahap yang perlu diperhatikan. Apakah terumbu karang itu sehat ato sakit ? beda pula dengan pertanyaan apakah terumbu karang rusak ato bagus. dua pertanyaan ini membutuhkan 3 alternatif solusi : secara fisik terumbu karang tersebut perlu a) direstorasi atau b) dibiarkan shelf recrutment atau c) perlu artificial reefs. Betul, dibutuhkan aliran analisis yang applied science, pertimbangan sosial, ekonomi, dan dan waktu. Slamat berkarya anak Kla22.

Leave a Reply