Salah satu ciri universitas ternama adalah saat jadi muara pilihan siswa menengah dari berbagi penjuru kabupaten/kota atau bahkan provinsi lain. Universitas Hasanuddin salah satunya. Sejak meluncurkan Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) tahun 1988, silih berganti siswa dari berbagai kota di Indonesia datang ke Makassar. Mereka datang menuntut ilmu baru: Kelautan. Salah satunya, M. Teguh Budiman.
Lelaki yang tamat SMA di Nusatenggara Barat ini pada tahun 1994 ini memilih ITK sebagai pelabuhan ilmunya. Juga pada tahun yang sama. Dia menyimpan cita-cita yang tinggi pada penelitian dan pengelolaan lingkungan utamanya pesisir dan laut. Melalui email dia menceritakan liku perjalanannya kepada admin ISLA selama kuliah hingga ruang lingkup pekerjaannya di salah satu perusahaan tambang terkemuka di Indonesia saat ini.
***
“Saya pilih Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin, setelah melihat brosur yang bertuliskan “Marine Science and Technology” kala itu” Katanya memulai ceritanya.
“Membaca judulnya saya membayangkan satu bidang studi yang luar biasa dan spektakuler untuk lulusan SMA polos bin gagah dari wilayah selatan seperti saya ini” Lanjutnya setengah berkelakar.
“Saya bayangkan cakupan ilmu yang didapat adalah kajian tentang teknologi di bidang Kelautan meliputi konstruksi kapal, bangunan pantai, pelabuhan, instalasi minyak lepas pantai dan lain sebagainya seperti banyangan yang saya lihat di televisi” Ungkapnya. Namun setelah terpilih sebagai salah satu yang lulus masuk ITK pada tahun 1994 Teguh merasakan kenyataannya sangat berbeda.
“Saya terus terang agak ragu pada tahun kedua perkuliahan. Saya pesimis saat itu. Namun karena dorongan keilmuan yang memang datang dari dalam hati saya mencoba memanfaatkan sekecil mungkin peluang untuk mengembangkan minat saya itu” Kenangnya.
“Saya kemudian menjalani proses perkuliahan persis sama dengan kawan-kawan lain,. Saya coba aktif di kelembagaan dan terlibat pada dinamika yang ada. Saya aktif di organisasi selam seperti Marine Science Diving Club, HMI, bahkan menjadi salah satu pemain bola di FC Marine” Kata Teguh yang kini bermukim di Sumbawa, Nusatenggara Barat.
“Saya dapat memetik pelajaran dari proses interaksi dengan pendahulu-pendahulu yang seperti senior atau dosen yang saya akrabi dan belajar tentang hal-hal yang prospektif” Lanjutnya lagi.
“Kesimpulan yang saya dapat kemudian; saya harus menjadi berbeda dengan apa yang telah ada. Itulah yang memotivasi saya untuk fokus dan konsisten pada piihan keilmuan dan spesialisasi. Saya mulai dengan serius di penelitian lingkungan. Saya terbantu dengan beberapa kegiatan yang relevan seperti survey dan penelitian bawah air” katanya lagi.
Teguh juga menceritakan bagaimana saat kawannya yang getol di penyelaman aktif di POSTERI, PSTK dengan mengandalkan pengetahuan tentang karang serta ikan karang membuat dia juga terpacu untuk mengambil bagian.
“Saya pun ikut pelatihan monitoring sumberdaya bahkan mencoba ke jenjang advance. Saya mencoba keterampilan lain dan bahkan sempat memperoleh beasiswa untuk mengikuti Commercial Dive Training di Singapore” Katanya.
Tapi Teguh lebih memilih berguru ke Pusat Studi Lingkungan Unhas. Dia memilih bergabung dengan mahasiswa “penghayal’ yang dibimbing oleh Prof Dadang Soeriamiharja, yang saat itu terkenal lama rentang studinya.
“Mahasiswa yang ikut bimbingan Prof Dadang (kini Pembantu Rektor I Unhas) disebut mahasiswa nyeleneh karena pasti lama selesainya” Kata Teguh.
***
Perjalanan karis Teguh lumayan alot dan tidak banyak alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan yang sukses melaluinya. Teguh kini menjadi staf Marine Environment Monitoring pada PT Newmont, salah satu perusahaan tambang di Nusa Tenggara Barat.
“Saya bekerja di sana sejak tahun 2003” Ungkapnya. Tugas saya mengecek status lingkungan utamanya pesisir dan laut di sekitar area mining. Tugas saya mengecek kondisi biosifik dari waktu ke waktu, seperti sedimen, kondisi terumbu karang dan keberadaan spesies di sekitar lokasi tambang.
“Saya beruntung dapat kerja di kampung halaman sendiri namun yang pasti dengan lingkungan kerja sekarang saya dapat simpulkan bahwa apa yang saya lalui, selama ini saya dapatkan dan pilihan yang saya siapkan sejak awal” katanya.
“Saya bangga bangga mengatakan bahwa sebagai alumni Ilmu Kelautan Unhas, semua ilmu atau mata kuliah yang diberikan dan dibagi oleh orang-orang yang saya kenal itulah yang membuat saya seperti sekarang ini” ungkap lelaki penggemar klub bola AC Milan ini.
“Kepada kawan-kawan almamater utamanya mahasiswa Kelautan yang masih bergelut di kampus, tetaplah serius dan fokus. Jika takdir dan nasib yang datang berbeda dengan keinginan tetaplah raihlah dengan ikhlas. Cobalah manfaatkan walau sekecil apa pun peluangnya karena hikmah adalah sesuatu yang pasti” pesan Teguh menutup ceritanya.


Memang tangguh dan bijaksana senior yang satu ini, bangga juga pernah jd kadernya di kampus.
Sukses slalu Kanda!!
hehehe…semoga kita semua sukses
semoga kesuksesannya semanis madu yang pernah dijanjikannya padaku….
Saya memetik pengalaman berharga dari profil Ka’teguh…sukses kanda.