Tanggal 17 Mei 2012 menjadi istimewa bagi alumni Kelautan Unhas, khususnya bagi pengurus ISLA Unhas 2010-2013. Mengapa pengurus? Karena pada momen ini rencana pertemuan Ketua ISLA dan beberapa pengurus inti plus sesepuh Kelautan dihelat. Wakil Ketua yang berdomisili di Jakarta yaitu, Andi Nurjaya, Koordinator ISLA Jabodetabek, Awaluddin, dan beberapa alumni senior lainnya menyataan kesediaannya untuk hadir.
M.Zulficar Mochtar, alumni tahun 1990 yang kini bergiat di ragam program Kelautan nasional dan internasional, sosok sentral di Destructive Fishing Watch (DFW) menawarkan kantornya di bilangan Benhil sebagai tempat pertemuan.
“Silaturahmi alumni bersama coto” begitu pesannya. Pertemuan bersama coto dan ketupat ini nampaknya akan heboh. Jika selama ini poros gerakan ISLA masih berbasis di Makassar, maka tahun ini, kuat keinginan bersama untuk konsolidasi gerakan perubahan pengelolaan kelautan lebih massif dari ibukota negara. Pertemuan di Benhil ini menjadi tolok ukur seperti apa semangat alumni mencermati konstalasi isu Kelautan nasional.
Salah satu amanat Raker Alumni tahun 2010 adalah mendorong ISLA untuk menginisiasi Ikatan Sarjana Kelautan se-Indonesia. ISLA Unhas memandang perlu untuk mulai menginisiasi dengar pendapat dengan alumni untuk itu. Pertemuan di kawasan Benhil ini digagas untuk berbagi pengalaman, perspektif dan situasi terkini tentang pergerakan kelautan di Indonesia.
“Pertemuan ini pertemuan silaturahmi, sekaligus melihat kecenderungan pemikiran teman-teman alumni mengenai urgensi organisasi alumni tingkat nasional” ungkap Andi Nurjaya, konsultan pada beberapa proyek prestisius di Indonesia.
Bertempat di Kantor Destructive Fishing Watch (DFW Indonesia), satu persatu alumni datang seperti Awaluddin “Cindenk”, Andi Nurjaya, Kun Praseno, Darwis, Ronny 90, Jufri 92, Agus Ajar, Irwan Muliawan, Anca, Abdi, Donny, Dafiuddin, Yasser, Ismawan, Urban, Hijaz. Beberapa alumni menyatakan kesediaan namun datang belakangan.
Layaknya perbincangan alumni, suasana penuh canda tawa menjadi pembuka. Lalu topik bergeser dari konstalasi politik nasional, kapasitas kementerian KKP, kompetisi alumni dan dinamika keproyekan kelautan hingga update suasana terakhir Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP).
Salah satu yang mengemuka adalah pentingnya alumni untuk membantu klarifikasi kasus yang mendera empat mahasiswa Kelautan Unhas. Satu catatan dari pertemuan itu adalah pengurus ISLA akan berkoordinasi pihak Fakultas sesegara mungkin untuk memperoleh informasi situasi terkini dan memberikan input konstruktif bagi kampus/civitas akademik.
Terkait langkah-langkah konstruktif ISLA untuk menginisiasi terwujudnya organisasi alumni atau pemerhati Kelautan nasional, salah satu rekomendasinya adalah mengajak segenap alumni untuk menjalin komunikasi dengan alumni universitas lain yang mempunyai ‘core’ minat ke Kelautan untuk memikirkan bentuk organisasi yang pas. Pengurus ISLA Jabodetabek dibantu Agus Ajar Bantung (91) dan Badaruddin AP (89) akan menjadi simpul dalam inisiasi ini.






Para jawara ISLA berkumpul..bakal calon pemimpin Kelautan masa depan di Indonesia…sukses selalu !!