
Prof Indra Jaya (ujung kiri) bersama Prof Indroyono, Prof Jamaluddin Jompa dan Dr. Syafri Burhanuddin (Foto: Kamaruddin Azis)
“Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) sebagai organisasi profesional harus giat melakukan “annual review”, yaitu membuat rilis tahunan mengenai situasi dan tren issu Kelautan di berbagai level” ujar Prof Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc salah seorang pakar kelautan yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) IPB Bogor di Pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahun (PIT) dan Kongres ke VIII Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) di Baruga Sangiaseri, Gubernuran Sulawesi Selatan (Minggu/25 September 2011).
Bersama Prof Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc, Dr. Ir. Syafri Burhanuddin, DEA, mereka disebut sebagai kandidat kuat pada Kongres ISOI ke-8 yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 September 2011 di Hotel Sahid Makassar. Diperkirakan 400an anggota ISOI dari berbagai komisariat daerah (Komda) ISOI akan memberikan suara pada kongres ini.
Menurut Prof Indra yang juga dikenal sebagai ahli akustik dan instrumentasi laut, Selain menekankan pentingnya ISOI untuk mendorong giatnya kegiatan review kelautan sebagai masukan bagi pemangku kepentingan di wilayah pesisir dan laut, juga menekankan pentingnya akreditasi bagi para ahli Kelautan.
“Tetapi tidak semua bidang atau aspek kelautan yang mesti diakreditasi atau diberi sertifikat keahlian” katanya. Menurutnya, akreditasi dan sertifikasi ditujukan utk manajemen atau penyelenggaraan ISOI, sedangkan utk profesi kelautan sendiri perlu selektif mengingat rentang dan diversifikasi bidang kelautan itu sangat luas, mencakup aspek, biologi, fisik, kimia, rekayasa, dan sosial ekonomi budaya dan hukum.
Lebih Dekat dengan Prof Indra
Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc., dilahirkan di Palopo, Luwu, Sulawesi Selatan pada 10 April 1961. Menempuh pendidikan dasar, menengah dan atas di Makassar. Sewaktu SMA pernah mengikuti program pertukaran siswa (AFS Program, tahun 1979-80) di Taft High School, Lincoln City, Oregon, Amerika Serikat. Masuk IPB tahun 1980 dan lulus sarjana perikanan IPB pada tahun 1984. Mendapatkan gelar Doktor (PhD) pada tahun 1996 dengan disertasi tentang perambatan suara bawah air (bidang Akustik Kelautan) dari Graduate School of Marine Studies – University of Delaware, USA.
Sejak menyelesaikan pendidikan pascasarjana, beliau menekuni bidang Akustik dan Instrumentasi Kelautan. Mata kuliah yang diajarkan, antara lain: sistem sonar, instrumentasi kelautan, oseanografi akustik, analisis numerik. Karya ilmiah yang telah dihasilkan, antara lain meliputi perambatan suara dalam air, deteksi kawanan ikan, kecepatan renang ikan, pola migrasi lapisan penghambur laut dalam, klasifikasi substrat dasar perairan, dan pengukuran parameter fisik laut dengan sistem telemetri.
Berdasarkan rilis IPB, tempat Prof Indra mengabdi disebutkan bahwa selain karya ilmiah tersebut di atas, dari hasil pengembangan produk penelitian, penulis sebagai co-inventor, telah mengajukan 6 (enam) paten, yakni: (1) fry counter (penghitung benih ikan kecepatan dan akurasi tinggi), (2) alat pengukur tingkat kesegaran ikan, (3) pemberi pakan ikan/udang otomatis, (4) instrumen pembeda jenis kelamin ikan koi, (5) alat sortir dan penghitung ikan hidup, dan (6) alat pengambil sampel ikan air tawar.
Aktivitas dan pengalaman lainnya, antara lain sebagai Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI bidang Kelautan dan Perikanan 2006-2008. Anggota Asesor BAN-PT 2004 sampai sekarang. Keanggotaan profesi: IEEE Oceanic Engineering, and Instrumentation and Measurement, Ikatan Sarjana Oseanografi Indonesia (ISOI), dan Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI).
Saat ini Prof Dr. Ir Indra Jaya, M.Sc menjabat sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, periode 2007-2011.

Comment.
Ulasan mengenai Prof. Indra menarik baik dari segi riwayat akdemis maupun beberapa karya yg disebut telah mengajukan beberapa patent atas karyanya.
Saya kira memang seperti demikianlah yang diharapkan bangsa ini ke depan bagaimana ilmu2 yg telah dikuasai itu bisa memberi manfaat yg seluas-luasnya bagi bangsa kita dan masy sec menyeleruh wabilkhusus di bidang kelautan itu sendiri.
Siapapun yg terpilih jadi ketua ISOI sebaiknya diseleksi berdasarkan asas kapabilitas dan asas manfaat. Tidak perlu memandang dari mana ia lahir atau dimana ia lahir tapi, Apa yang bisa mereka perbuat untuk kemajuan Kelautan melalui wadah ISOI itu dan bisa mendatangkan manfaat.
Sehingga seleksi ketua ISOI ini jangan dilandasi atas faktor politis emosional karena latarbelakang kedaerahan belaka, tapi faktor KAPABILITAS dan faktor KEMANFAATAN.
Sekarang bangsa kita perlu punya terobosan2 pembangunan di bidang kelautan dan karena ISOI adalah wadah bagi ahli2 kelautan, disinilah peran organisasi ini menyusun berbagai hal pemb. kelautan yg bermanfaat nyata bagi bangsa dan masy. Kalau tak ada ubahx dengan lembaga org lain, maka ke depan masy akan hanya dapat berkata, dimana peran ahli2 kelautan untuk bangsa kita, untuk masyarakat kita, untuk negara kita?
Ilham
Alumni ITK-UH Ang.’90