Rustam Marsaoli atau Ongen, begitu dia dipanggil, menghabiskan masa kecil di Halmahera, Maluku Utara. Jiwa dan karakter pesisir sangat lekat dari sosok yang lahir tanggal 8 Agustus 1973. Keluarga besar Ongen ada di Halmahera tepatnya di Pulau Gebe.
Jika ingin tahu letak Pulau Gebe maka coba lihat di google earth letaknya antara Kepulauan Raja Ampat dan Halmahera. Pulau Gebe pernah jadi ladang nikel PT. Aneka Tambang.
“Orang tua saya pensiunan PT Aneka Tambang,” Kata Ongen. “Saya masuk Kelautan tahun 1992. Dengar kabar tentang program studi itu di Kota Ternate. Yang saya ingat jurusan itu adalah program baru. Tapi, saat itu saya menempatkannya sebagai pilihan ke-2,” Katanya dengan senyum mengembang. Setelah selesai tahun 1998.
Ongen yang punya keahlian menyelam, pada akhir tahun 90an mulai melirik pekerjaan berbasis keilmuannya. Dia aktif di Pusat Studi Terumbu Karang (PSTK) sekarang berganti nama menjadi Pusat Penelitian Terumbu Karang (PPTK) UNHAS. Kedekatannya dengan Prof. Akbar Tahir, Ibu Dewi Yanuarita,M.Sc dan Muchsin Situju memberinya pengetahuan dan pengalaman tentang riset terumbu karang. Selama bekerja di COREMAP fase I dia aktif di unit Coral Reef Information and Training Center, CRITC.
Beberapa lokasi yang telah diteliti di sekitar perairan Spermonde seperti Kapoposang, Barrang Lompo, Lanjukang hingga termasuk hampir semua kawasan Pulau di Taka Bonerate, Selayar. Banyak kawannya yang tidak mengetahui bahwa Ongen sebenarnya adalah Pegawai Negeri Sipil di salah satu kabupaten di Maluku Utara. Semua bermula saat sahabatnya yang juga alumni Kelautan Unhas asal Ternate, Hasyim mendaftarkannya untuk ikut test PNS di sana.
“Saya lulus PNS di Halmahera Tengah, pada tahun 2003. Dalam beberapa bulan, saya sudah dipromosikan sebagai Kepala Seksi. Mungkin karena saat itu tenaga dengan latar belakang kelautan masih kurang,” Kenangnya. “Saat masuk kantor saya biasa bingung mau ngapain, suasananya sepi sekali. Saya masuk kantor pagi dan kerap jam 2 siang su pulang,” Katanya dengan aksen Maluku yang masih kental. Ongen pun hanya sempat bertahan selama 6 bulan.
Yang berperan dalam hidupnya adalah Vijay Singh, sahabatnya yang bekerja di UNORC Indonesia. Vijay lah yang mengajaknya bekerja untuk satu proyek United Nations (UN) yang fokus pasca konflik di Maluku Utara sebagai assistant project manager yang dibiayai oleh UNDP antara tahun 2003-2004. “Project managernya bernama David Coulthard,” Kata Ongen. Dari situlah dia mulai benam di kerja-kerja sosial. Dia semakin jatuh cinta pada upaya permberdayaan masyarakat, utamanya masyarakat pesisir.
Tahun 2004, saat tsunami meluluhlantakkan Aceh, dan beberapa donor serta NGO memobilisasi stafnya ke Aceh, Ongen adalah salah satu yang dipanggil. Ini, setelah seorang sahabatnya yang lain bernama Bill Marsden bekerja untuk proyek tanggap darurat pada organisasi British Red Cross di Aceh-Nias memasukkan namanya sebagai staf program. Ongen ditawari sebagai Area Coordinator untuk wilayah Aceh Besar, tepatnya di Kecamatan Lhoong. Ongen lumayan lama di Aceh.
Dia mendarat di Aceh pada tahun 2005 dan merampungkan pekerjaannya sebagai Area Coordinator pada Juni 2008. Selama di sana dia bertanggung jawab untuk mengelola program “livelihood” warga pasca gempa dan tsunami. “Saya pertama tugas di Aceh Besar, tepatnya di kecamatan Lhoong lalu pindah ke Aceh Jaya. Basenya di Lamno,” Katanya. Hanya berselang dua bulan, Ongen melanjutkan kiprahnya dengan mengabdi pada masyarakat grass root di negara tetangga Papua New Guinea (PNG). “Saya ke PNG sebagai Project Coordinator untuk Coastal Livelihoods Developoment Project dari bulan Agustus 2008 hingga Juli 2010,” Ungkapnya.
Ongen tingal di Port Moresby dan tiap hari mesti menempuh perjalanan sejauh 30 kilo untuk sampai di lokasi proyeknya di Warebko. “Tantangan bekerja di sana adalah ihwal komunikasi, karena masih banyak warga menggunakan bahasa lokal. Selain itu medan di sekitar wilayah Port Moresby sangat berat karena jalan yang masih belum mulus,” Katanya.
Ditanya tentang kemampuan selam yang dimilikinya, Ongen mengatakan masih memanfaatkannya walau pun tidak terkait dengan pekerjaannya utamanya. “Saya masih bisa menikmati beberapa titik penyelaman saat pesiar ke wilayah-wilayah laut terkenal seperti di Pulau Weh, Sabang, Pulau-Pulau Aceh,” “Dulu, dulu sekali, saya hampir sebulan mengelilingi rataan terumbu karang di Taka Bonerate saat masih kerja di COREMAP I,” Katanya.
Ternyata bukan hanya itu, Ongen rupanya punya pengalaman menyelam (fun dive) di Kepulauan Maladewa atau Maldives, Fiji bahkan ke Great Barrier Reef, Australia. “Saya menyelam di daerah itu saat masih terikat pekerjaan di PNG,” Katanya. Pengalaman lucu Ongen adalah saat menyelam di Great Barrier Reef. “Instruktur di sana, sangat ketat. Dia tidak mau beri kesempatan kepada saya untuk menyelam karena lisensi sudah tidak berlaku. Terpaksa mereka tes saya,” Kata Ongen.
Ongen yang beristrikan Ima, wanita Makassar lulusan sastra Inggris Unhas telah dikaruniai dua orang anak dua, masing-masing berumur lima tahun dan satu tahun. Istrinya adalah tenaga freelance dalam pengajaran bahasa Inggris di berbagai organisasi seperti LAN, LP3I lain sebagainya.
Saat ditanya apa rencana berikutnya, Ongen bertutur bahwa sebenarnya ada tawaran bekerja di lembaga UN, tepatnya di Kosovo, Eropa Timur namun masih pikir-pikir…
Makassar, 07102010

Sebuah kisah empirik yang sekali lagi menegaskan, bagaimana hidup adalah sebuah pilihan… Dan lagi seorang Sabahat, Saudara saya Ongen membuat pilihan ‘terhebat’ yang menurut saya tidak hanya menurutkan nalar tapi menempatkan rasa di dalamnya.. Sukses selalu bro.
dari kutipan katanya “Saat masuk kantor saya biasa bingung mau ngapain, suasananya sepi sekali” menunjukkan kalo dia orang yang haus akan kerja, dinamis tapi tetap tenang….heee saya suka itu kata-kata.
dari kutipan katanya “Saat masuk kantor saya biasa bingung mau ngapain, suasananya sepi sekali” ….
saya suka itu kata-kata bro..,tp pasti akan lebih terdengar indah dan sy pasti akan lebih suka jika itu ditliskan dalam bahasa dan logat gebe.. he.he..heeeee..
intinya saya suka logatnya ongen….
seniorku yang satu ini cool namun cukup sangar bila manjadi asst. instruktur kala masih di MSDC. Banyak kenangan unik dan lucu bersama saat masih di simpul dan PSTK..hehe.
Sukses Seniorr!!
Ongen?? siapa tara kenal..seng ada lawan..hhhehehe.. teman seperjuangan semasa PSTK dan sampai sekarang masih bermitra sebagai rekan bisnis di salah satu perusahaan multinasional terbaik di dunia..Perjalanan karirnya sangat menarik untuk dijadikan inspirasi bagi teman-teman KLA lain…dimana PNS bukan merupakan satu-satunya periuk nasi dan harga mati bagi anak KLA untuk berkarir..Angkat
Sorry ter-enter ..lanjutannya..Angkat topi buat senior yang satu ini!!
Om Ongen, I Love U Full….
Hehehehe….
Ternyata bung Ongen punya pengalaman tanggap darurat di Aceh. Saya pengen tahu protap tanggap darurat ala lembaga internasional. Bisa di info ke emal saya: yantigobel@yahoo.com.
Salam dari Alumnus FKM UNHAS
Bravo kanda Ongen….
om Ongen……pantesan pas torang ke tidore ngoni so tara ada…..sukses om.
Sukses slalu Kanda Ongen…
seng ada lawann…!!!
Cool Ongen…, mantap Bung…!
itu baru saya pe kaka utam…sukses selalu