Alumni yang satu ini boleh dibilang berkarir lempang di koridor Kelautan. Jika melihat jalur karir dan pekerjaan yang dijalannya, maka dapat disebut nasib baik selalu berpihak padanya. Namanya Kemal A. Rahman Massi, disapa Kemal. Beberapa sahabatnya di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Unhas memanggilnya Etal, begitu panggilan akrabnya.
Lelaki kelahiran Juli tahun 1970 ini layak dijadikan panutan bagi sesiapa saja utamanya mahasiswa yang menimba ilmu di bidang Kelautan. Bagi yang percaya bahwa Kelautan merupakan ladang pengabdian dan masa depan. Alumni ini merupakan alumni angkatan tahun 1990, saat masih bernama “Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan”. Kemal kenyang berkarir di LSM, PNS dan korporat.
Semasa kuliah dia terkenal ulet dan aktif di organisasi selam, Marine Science Diving Club (MSDC Unhas), dia adalah ketua MSDC kedua setelah Hasanuddin (angkatan 88). Kemal adalah diver yang juga atlit Kempo. Dia juga punya kepiawaian sebagai figur pemain marchingband di masa sekolah, bahkan saat kuliah.
***
Perhatian dan dedikasinya di MSDC itu memberinya akses yang sangat luas pada penelitian, survey, dan kunjungan ke beberapa wilayah pesisir dan pulau-pulau di Indonesia. Menyelam dan melakukan penelitian selama mahasiswa telah memberinya keyakinan untuk fokus di Kelautan.
Kemal melenyesaikan pendidikan strata satu dengan tesis berjudul “Studi Kondisi Terumbu Karang di Taman Nasional Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, Indonesia”. Taka Bonerate adalah atol ketiga terbesar di dunia setelah Kwajifein dan Suvadiva di Pasifik.
Jalur Karir
Setelah menamatkan pendidikan strata 1 pada tahun 1996, dan wara wiri di berbagai proyek Kelautan nasional, Kemal sukses menyelesaikan studi lanjutannya (Master) di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, ITB Bandung. Dia meraih gelar master dalam bidang teknik lingkungan dengan tesis Traditional Diving SHE Analysis as effort to protect the Occupational Disease in Barrang Lompo Island, South Sulawesi, Indonesia pada tahun 2001.
Pengalamannya yang luas dan sarat keterampilan semisal saat menjadi Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL Indonesia) serta sebagai dinamisator pada kurun waktu 2002 – 2006 pada Destructive Fishing Watch (DFW) – Indonesia, satu LSM advokasi lingkungan kelautan yang berbasis di Jakarta serta pengalaman di beberapa proyek prestisius Kelautan seperti COREMAP memberinya jalan lempang untuk berkiprah di salah satu perusahaan minyak papan atas di Indonesia, ConocoPhillips.
Dia ditawari dan bersedia menjadi tenaga Corporate Social Responsibility (CSR) di Perairan Natuna. Antara tahun 2008 – 2011 Kemal adalah “CSR Program Specialist” di Natuna, Dia bekerja untuk divisi Development & Relations ConocoPhillips Indonesia. Sebelumnya pada tahun 2006 hingga 2008. Kemal merupakan CSR Program Analyst.
Mengabdi di ConocoPhillips, Kemal dapat memberikan segenap kemampuannya sebagai alumni, sebagai penyelam, sebagai periset masyarakat pesisir dan pulau-pulau dan tentu saja sebagai fasilitator bagi pengembangan Kelautan di Kepulauan Anambas, dan Kepulauan Natuna secara luas. Tugas Kemal adalah memastikan relasi korporat dengan masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan terjalin dengan mutualisme.
Ada yang menarik dari catatan lini masa lelaki yang kini beranak tiga ini yaitu bahwa antara tahun 2003 – 2008 dia menjabat chief editor untuk Jurnal SMARTek pada Universitas Tadulako, di Sulawesi Tengah. Kemal adalah dosen pada universitas negeri tersebut, namun kemudian memilih berkarir di sektor privat.
Berlabuh di Negeri Paman Sam
Siapa sangka bahwa karir lempang dan prestisius yang dilaluinya selama beberapa tahun terakhir mesti ditinggalkannya, Kemal kini berlabuh di Negeri Paman Sam.
“Ini pilihan sulit saat sedang berkarir di salah satu perusahaan terkemuka namun karena perhatian dan rasa sayang ke keluarga, saya harus memutuskan ke Amerika” pesannya melalui blackberry messenger beberapa waktu lalu.
“Saya mesti mengembangkan kapasitas diri di Amerika. Hitung-hitung untuk pengembangan karir setelah kembali ke Indonesia kelak” kata alumni yang beristrikan Iss Hafid, staf pada kantor International Monetary Fund (IMF) yang berbasis di Washington DC.
Etal menyimpan agenda baru. Agenda yang kemungkinan besar tidak akan jauh dari dimensi Kelautan. Bukan begitu pak Etal?




saya beruntung bisa berinteraksi dengan beliau sebelum ke amerika., mendapat sedikit pelajaran tentang komitmen, konsistensi dan kerja keras yang kelak akan membuahkan hasil
Hi Tono….. Sebaliknya sy amat Sangat Berbangga bekerjasama dengan alumni kelautan yg memiliki talent yg beragam seperti Tono Dan ilmu kelautan Nya
saya beruntung mengenal sobat saya ini cukup dekat serta bangga mengatakan klo beliau adalah saudara saya…!!
Hi Madonk… My brother, my BFF. Sejak SD sampai Sekarang sy selalu rindu untuk bertemu Dan berbagi Suka Dan duka dengan beliau…
Untung rugi deh klo saya hehehe…untungnya krn saat kuliah sempat dapati beliau di kampus brsama dgn greatest klaners yg lain termasuk ketua ISLA skrg (panjang klo disebut satu2 wlopun sy hapal semua nama2 mereka…hehehe)…rugi krn blm sempat berguru lagi sebelum beliau ke amrika hehehe, tapi pulang dari amerika siap2 dibajak minta ilmunya
siap Pak Teguh… bisa kita atur nanti
Pesan dari Banda – ambon…seng ada lawaaannnn !!
sukses selalu buat kak Ethal
Sukses selalu saudaraku Pak Ethal dan rekan Kla semuax. Salam ama Kaluarga,….mantavs Bro
Bro Syakir and Ilham, many thanks
Sehat Slalu Kanda, agar dpt terus berkarya terbaik
Mantap kanda..sehat dan sukses selalu kanda.
Selamat n Sukses slalu Kanda Ethal…