“Terkait hasil perikanan, sejak dua puluh tahun lalu suasana Lae-Lae tetap sama seperti ini, ikan sulit diperoleh. Namun 30 tahun sebelumnya, ikan masih banyak. Semua berubah sejak makin banyaknya pembius ikan dari Hongkong” kata Haji Mile. Ungkapan itu merupakan bagian dari dialog para penulis internasional yang berkunjung ke Pulau-Pulau Lae-Lae (Sabtu, 16 Juni 2012).
Kunjungan ke Lae-Lae ini merupakan fasilitasi antara Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas, Persatuan Olahraga Selam (POSSI) Sulawesi Selatan dengan RumataArtSpace, rumah kebudayaan yang dimotori Riri Riza dan Lily Yulianti Farid. Acara tahunan yang bertajuk “Makassar International Writers Festival (MIWF)” 2012 ini merupakan pelaksanaan
yang kedua. Tahun lalu ISLA Unhas membawa para peserta mengunjungi Pulau Barrang Lompo, bagian dari kepulauan berjuluk Spermonde.
Tema yang diusung berjudul “Spermode: Writers Tour” tujuannya untuk observasi dan membaca kehidupan warga pesisir utamanya yang berdiam di 11 pulau dalam wilayah administratif Kota Makassar. Selain observasi, dialog dengan warga, juga diisi dengan pembacaan puisi dan nyanyian. Suasana menjadi meriah karena seorang anak Lae-Lae ikut membacakan puisi.
Haji Mile yang mewakili warga, berharap agar ada perhatian pada pendidikan anak-anak di Lae-Lae, salah satunya membentuk sanggar kesenian. Omar Musa dari Australia menanyakan relasi bahari antara Makassar dan Australia Utara, antara nelayan Sulawesi Selatan dan suku Aborigin. Selain Omar hadir pula, John McGlynn dari Lontar Fondation, Khrisna Pabicara (novelis Sepatu Dahlan), Luna Vidya, Wendy Miller, Ng Yi Sheng, Janet De Neefe dari Ubud Writers dan sutradara Riri Riza sebagai pendiri Rumata.



