Tanggal 28 Mei 2012, menjadi istimewa bagi pemerhati pesisir dan laut di Makassar. Pasalnya, setelah melalui berbagi pertemuan konsultasi antar praktisi, aktivis, penyelam (diver) dan komunitas pegiat konservasi sumber kelautan, akhirnya disepakati untuk melaksanakan launching (peluncuran) gerakan Forum Pemerhati Spermonde, disingkat FPS.
Spermonde adalah gugusan pulau-pulau yang tersebar dari wilayah administrative Kabupaten Takalar hingga ke utara selat Sulawesi dalam wilayah kabupaten Pangkaje’ne Kepulauan. Lebih 200 pulau masuk dalam wilayah ini. Khusus untuk Kota Makassar terdapat 11 pulau yang menjadi penopang Spermonde.
Kata Spermonde merupakan turunan kata Belanda yaitu Spaar Monde. Kawasan ini merupakan kawasan yang bergejolak sejak tahun 1600 hingga runtuhnya kerajaan maritime Gowa, tahun 1669. Namun demikian, geliat perlawanan tidak berhenti saat itu, beberapa panglima perang seperti Kerajaan Galesong dan anggota Bate Salapanga (dewan adat) hengkang ke perairan dan pulau-pulau di depan daratan utama kerajaan seperti Barrang Caddi, Barrang Lompo, Kodingareng dll.
Kini, dinamika pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut yang cenderung eksploitatif memberikan dampak ekstrim bagi keberadaan ekosistem di perairan Spermonde. Terjadi degradasi ekologi, terumbu karang semakin menciut, padang lamun dan ekosistem laut dalam mulai terancam, baik oleh ulah manusia maupun kondisi lingkungan seperti pencemaran, abrasi, hingga suhu laut yang kian meningkat tajam.
Tanggal 28 Mei 2012, berlokasi di Pulau Kodingareng Keke, Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin menjadi saksi ketika puluhan representasi organisasi masyarakat sipil, penyelam, aktivis lingkungan kampus, dan masyarakat yang mewakili pulau dalam wilayah Makassar mendengarkan ikrar dukungan bagi kawasan Spermonde. Intinya, para pemangku-kepentingan bersama pemerintah kota bertekad bekerjasama untuk membangun, mengelola dan mengawasi pemanfaatan Spermonde dengan bijak dan berkelanjutan.
“Kodingareng Keke akan menjadi simpul gerakan itu” kata Januar ketua POSSI Sulsel. Pada peluncuran itu, hadir perwakilan Danlantamal IV, Polairud Sulselbar, ketua POSSI Sulsel sekaligus anggota DPRD Sulsel, Andi Januar J. Dharwis, dan perwakikan Biro Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan (Ir. Faisal). Beberapa alumni Kelautan Unhas yang hadir adalah AM Ibrahim, Kla 91, Asriadi, Kla 95, Rony Bidang dan Aidil Syam.
Pemerintah Kota Makassar memberikan apresiasi kepada warga pulau dan komunitas pemerhati pesisir dan laut yang telah membuktikan dukungannya pada upaya pelestarian dan pengelolaan yang lebih baik. Inisiasi gerakan Forum Pemerhati Spermonde ini merupakan langkah strategis dan layak didukung.
Pada acara itu dirangkaian pementasan sandiwara Petta Puang, Penyerahan peralatan dan penanaman pohon, fotografi pesisir dengan melibatkan dua model peserta putri pariwisata, pemasangan artificial reefs (wreck), penyelaman dan dialog dengan warga tentang isu pesisir dan laut, ada empat pembicara yaitu perwakian Lantamal IV, ketua POSSI Sulsel, Perwakilan BLH Sulsel serta Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas.
Warga yang hadir menyampaikan bahwa, hingga kini praktek penggunaan mini trawl masih berlangsung padahal dapat menjadi sumber konflik, masih sulitnya mengurangi kegiatan destruktif seperti bom dan bius di sekitar pulau-pulau Spermonde karena tidak adanya alternatif mata pencaharian yang pas.
Selain itu, mereka juga menanggapi belum efektifnya program pengelolaan sumberdaya pesisir yang selama ini bayak dilaksanakan oleh instansi terkait. Selama 20 tahun terakhir, banyak program yang mengatasnamakan warga pesisir dan pulau namun belum memberikan dampak.
“Banyak bantuan untuk masyarakat pulau-pulau namun belum berhasil” kata seorang warga Barrang Caddi.
Poin dari diskusi tersebut menjadi catatan bagi Forum Pemerhati Spermonde untuk makin komit menempuh berbagai langkah dan solusi demi kawasan Spermonde yang lebih baik dan menjanjikan bagi generasi mendatang.




Mantaaps. Gerakan semacam ini memang harus terus dihidupkan.. Rindu rasanya ingin ikut serta..