12:38 am - Wednesday May 22, 2013

Diskusi Akhir Tahun ISLA Jabodetabek: Mau Dibawa Ke Mana Negara Kepulauan Ini?

Peta Maritim Indonesia (sumber lonelyplanet.com)

Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas Chapter JABODETABEK pada 28 Desember 2011 bekerjasama dengan Indonesian Maritime Institute (IMI), Destructive Fishing Watch (DFW) dan KIARA Indonesia menggelar “Diskusi Akhir Tahun 2011″. Pembicara yang hadir adalah Laksda TNI (Purn) Rosihan Arsyad, Dr. Connie R Bakrie, M.Sc. pengamat mliter bervisi maritim. Dr.Sudirman Saad, Dirjen Pesisir & Pulau-Pulau Kecil. Hadir pula, Dr. Arif Satria akademisi IPB, Dr. Y Paonganan dari IMI, M. Zulficar Mochtar, M.Sc dari DFW Indonesia serta Awaluddin, ST dari ISLA Unhas chapter JABODETABEK.

***

Rosihan Arsyad, mantan Gubernur Sumatera Selatan yang berpengalaman sebagai pelaku pengamanan di laut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan kebijakan maritime atau “maritime policy”, pembangunan kelautan dengan sistem cluster dan pentingnya Indonesia untuk mumpuntai ekonomi maritime. Sementara Dr. Connie R. Bakrie, M.Sc menyebutkan bahwa ekonomi kelautan harus jadi tumpuan bidang ekonomi. Menurut Connie, pembangunan selama ini adalah pembangunan skala daerah dan rawan konflik. Bukan hanya itu menurutnya, perlu dikembangkan pertahanan maritime berbasis wilayah, utamanya pada pulau-pulau strategis dan jauh.

Dr. Sudirman Saad, menawarkan pendekatan pada wilayah pesisir dan pulau-pulau demi mendorong pesisir yang tangguh. Saat ini ada 16346 desa yang akan diinisiasi pada 460 kabupaten pesisir dengan membangun rencana zonasi pesisir. Ini merujuk pada implementasi UU NO 27. Di sisi lain, Dr. Arif Satria menyebutkan bahwa perlu membangun industri kelautan. Pertimbangannya adalah bahwa saat ini Indonesia telah mulai kalah oleh negara-negara tetangga. Dia menawarkan pada perlindungan pada aspek pengelolaan. Sebagaimana diketahui, saat ini hampir semua kebutuhan dalam negeri telah diimpor (garam, nila, ikan patin, dll).

Pada sesi kedua, hadir Riza Damanik (KIARA). Dia menyebutkan bahwa tahun 2011 merupakan tahun pemiskinan yang sistemik. Tidak ada perspektif untuk melihat Indonesia sebagai negara kepulauan. Wilayah Indonesia Timur masih sumber bahan baku untuk industry di barat. Riza menyebutkan harusnya, wilayah Indonesia timur dapat dijadikan pusat industry maritime, ini ditunjang oleh kebijakan yang berpatokan pada konstitusi, jadi bukan semata pengerukan ekonomi.

Dr.Y.Paonganan dari IMI menegaskan bahwa yang dimaksudkan pendekatan maritime adalah upaya mengangkat tema maritime sebagai strategi untuk mengoptimalkan kepentingan negara berdasarkan potensi laut dan perikanan. Maritim berbeda dengan continental, Amerika dan China jaya karena punya strategi di maritime. Pernyataan Y.Paonganan yang biasa dipanggil Ongen ini diperkuat oleh M.Zulficar Mochtar dari Destructive Fishing Watch (DFW), menurutnya, pemerintah saat ini seperti tidak mempunyai perhatian ke potensi maritim.

“Apakah SBY bisa berenang, apakah telah pernah ke pulau-pulau terpencil?” tanya Zulficar seakan ingin menunjukkan bahwa perhatian pemerintah kita sangat minim ke pesisir dan pulau-pulau. Oleh karena itu, menurut Awaluddin, para pemangku kepentingan harus segera mengambil tindakan, mengkonsolidasi organisasi terkait pesisir dan laut, termasuk melibatkan mahasiswa dan organisasi pemerintah dalam memperkuat basis negara maritime ini.

Filed in: Program & Publikasi

No comments yet.

Leave a Reply