1:25 pm - Tuesday May 21, 2013

Alumni Kelautan Peduli Ibu Isa

Pak Saleh, Kamaruddin Azis, Ibu Isa, Imran, Syam, Syakir (22/04/2011)

Dua puluh tahun terakhir, Pulau Barrang Lompo adalah pulau tersibuk dalam urusan keilmuan, khususnya Kelautan. Hadirnya Marine Station yang dicirikan oleh laboratorium bio-fisik laut, penginapan, ruang meeting serta hatchery menjadi daya tariknya. Ribuan mahasiswa telah mengunjungi pulau yang masuk wilayah Kota Makassar ini. Pulau ini ditempuh dari dermaga Kayu Bangkoa, dengan kapal reguler setiap hari pada pukul 11.00 wita.

Bagi alumni Kelautan, ada rumah di ujung jalan dari dermaga yang memorable. Tempat mahasiswa sejak 1988 menghabiskan waktu, mengaso, makan, tidur hingga menjadi “asrama kedua” jika mesti tertahan di pulau karena kapal pulang tak ada karena cuaca buruk.  Rumah bercat putih susu itu dihuni Pak Saleh dan istrinya, Aisyah, kerap dipanggil ibu Isa. Mereka, pengrajin hiasan bernuansa laut dan ragam perak olahan. Merekalah yang dengan sabar melayani mahasiswa yang berdatangan.

Mahasiswa angkatan 1988-2000an menjadikan rumah mereka sebagai basecamp. Selain dekat ke dermaga juga karena hanya berjarak beberapa meter dari asrama marine station. Ada hubungan emosional yang kuat, apalagi dua anak mereka, Ulla dan Syam kerap menemani mahasiswa menyelam hingga melakukan riset S1.

***

Minggu lalu, tersiar kabar ibu Isa menderita lumpuh akut. Beberapa alumni menyampaikan rasa simpati melalui group BBM Kelautan. ISLA sebagai simpul alumni berinisiatif mengumpulkan donasi bagi ibu Isa. Adalah Muhammad “Doger” Syakir, alumni Kelautan 1994 yang mencetuskan ide ini.

Tanggal 22 April 2011, bersama Doger, Imran Lapong, Kla-97 dan Ketua ISLA berkunjung untuk menunjukkan simpati dan memompa semangat ke ibu Isa. Pak Saleh, ibu Isa dan dua orang anaknya menyambut para tamu. Menurut pak Saleh, penyakit istrinya sebetulnya muncul sejak 2007.

“Saat itu, mukanya bentol-bentol, mulut bengkak, ada benjolan warna merah, setiap malam muncul benjolan di batok kepalanya. Yang buat khawatir karena disertai gemetaran, seperti kejang-kejang” ungkapnya. “Sudah banyak dokter yang dikunjungi bahkan ke dukun di wilayah Galesong dan Limbung untuk diobati. Bahkan dirukyat” sambungnya. Ini dilakukan karena banyaknya tafsir atas sakit istrinya.

Malam itu, kami menyalami ibu Isa yang terlihat kuyuh. Tak bisa berkata-kata, dia kurus dan loyo. Kontras dengan pengalaman kami 20an tahun silam saat masih bersama bercanda dan tertawa di teras rumah panggungnya.

***

Malam itu Ketua ISLA, menyampaikan salam dan rasa rindu para alumni, utamanya yang aktif berkomunikasi di media BBM maupun social media lainnya.

“Ada salam dari Ahmad “Madonk” Thamrin di Masamba, Sugihartanty ‘94 dari Jakarta, Amiruddin MK alias Chonda ‘90, dan kawan-kawan seperjuangan dulu, seperti Awal Cindenk, Kemal, Vicar, mereka turut simpati” Kata Ketua ISLA.

“Kunjungan ini wujud peduli alumni pada almamater Kelautan, bukti perhatian pengurus pada kebersamaan kita sedari masa kuliah hingga saat ini” sambungnya. Mendengar nama-nama ini pak Saleh dan Istri menyunggingkan senyum dengan mata berbinar.

“Terima kasih masih mengingat kami. Mamakmu ini barupi ini bisa jalan, sebelumnya hanya berbaring” Kata pak Saleh.

Dengan menggenggam tangan ibu Isa, Imran, mewakili alumni menyampaikan sumbangan a la kadarnya untuk ibu Isa. Jumlahnya tidak banyak mengingat waktu pengumpulan yang hanya empat hari, tetapi jadi bukti bahwa alumni Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) tidak lupa pada orang tua atau pengayom mereka selama menjadi penghuni Barrang Lompo.

Makassar/Admin

23/04/2011

Filed in: Kabar Sekretariat

2 Responses to “Alumni Kelautan Peduli Ibu Isa”

  1. mulenk
    April 25, 2011 at 8:06 pm #

    sori telat. turut berduka cita.
    apa hasil diagnosa dokter bede?
    tq
    mul

  2. admin
    May 1, 2011 at 7:44 am #

    Mul, terlalu banyak dokter yang campur tangan. Tiba-tiba baik dengan sendiri…

Leave a Reply